Seminar Merajut Nusantara, Kenali 4 Pilar Literasi Digital

BERITA

Wonogiri–Sekitar 200 orang mengikuti Seminar Merajut Nusantara melalui Zoom Meeting, Senin (20/5/2024). Dosen Prodi KPI STAIMAS Wonogiri, Nadhiroh, S.Sos.I, M.I.Kom hadir sebagai salah satu peserta pada agenda yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Komisi I DPR RI.

Kegiatan bertemakan Budaya Komunikasi Digital dalam Masyarakat Indonesia itu menghadirkan narasumber Anggota Komisi I DPR RI, Dr.H.Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si, Pegiat Literasi Digital Gun Gun Siswadi dan Direktur Institut Kebangsaan, Dr. Achmad Maulani.

Muhaimin menyampaikan pentingnya masyarakat untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk hal-hal yang berguna dengan inovatif dan kreatif.

“Mari kita menjadi bagian yang produktif dan ikut memarnai ruang-ruang digital untuk sesuatu yang bermanfaat,” imbuh anggota Komisi I DPR RI itu.

Gun Gun menyampaikan materi tentang Budaya Komunikasi Digital Masyarakat Indonesia. Dia mengemukakan pengguna internet di Indonesia per Januari 2024 sebanyak 221,5 juta dari total populaso 278,6 juta. Ia menyampaikan hasil laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia (APJII) yang dirilis 31 Januari 2024.

“Tantangan era digital ini adalah terjadi banjir informasi. Bahkan ada yang menyebut tsunami informasi. Banyak masyarakat mengonsumsi konten hoax, ujaran kebencian, pornografi, radikalisme, perjudian, SARA, penipuan dan sebagainya,” ucap Gun Gun yang pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menkominfo RI tahun 2016-2019 itu.

Dia menambahkan, tantangan era digital lainnya adalah media sosial menjadi tidak produktif, karena digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Menurut Gun Gun, literasi digital perlu disampaikan kepada masyarakat secara luas. Dia menjelaskan 4 pilar literasi digital, yaitu:

1. Digital Skill
Memahami Perangkat Keras & Lunak TIK, serta Sistem Operasi Digital;

2. Digital Culture
Mampu membangun wawasan kebangsaan dalam berinteraksi di ruang digital;

3. Digital Ethics
Menyesuaikan diri , rasional & mengutamakan netiket;

4. Digital Safety
Meningkatkan kesadaraan perlindungan & keamanan data pribadi.
Dia menjelaskan, etika internet (netiquette, netiket kependekan dari “network etiquette” atau “Internet etiquette”) adalah “sopan-santun dalam berkomunikasi di internet, seperti dalam chating, kirim pesan, menulis status Facebook, “berkicau” di Twitter, menulis di blog (website), dan berkomentar di media online (situs berita).

Etika internet dapat pula dipahami sebagai adab pergaulan di dunia maya.
“Etika Internet pada dasarnya sama dengan etika berkomunikasi di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti jujur, menggunakan kata-kata yang baik (sopan), ramah, serta berbicara jelas dan mudah dimengerti,” jelas Gun-Gun

Maulani menyampaikan materi tentang Manusia dalam Revolusi Digital, Membangun Komunikasi di Era Digital. “Di tengah gempuran media digital yang mendisrupsi dan merestrukturisasi semua lini kehidupan, modernitas telah menciptakan satu hukum baru: media sosial sebagai sumber segala kebenaran,” lanjutnya.

Maulani menyatakan media sosial tidak pernah berwajah tunggal (singleface), tapi berwajah banyak (multiface). Untuk itulah kesadaran kritis mutlak diperlukan.
“Kita harus bijak menggunakan media sosial,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *