Diskusi Publik, Deddy Mizwar: Membuat Konten Pertanggungjawabannya Dunia Akhirat, STAIMAS Turut Suarakan Perlunya Tayangan Berbasis Riset

BERITA

WONOGIRI— Aktor senior sekaligus sutradara Deddy Mizwar mengingatkan pentingnya membuat tayangan berkualitas. Sebab, pembuat konten pertanggungjawabannya dunia akhirat.
Demikian disampaikan Deddy pada Diskusi Publik yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan tajuk Mewujudkan Tayangan Berkualitas dan Bermartabat secara daring dan luring di Solo, Sabtu (25/6).
Hadir sebagai narasumber lainnya yaitu Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Nursodik Gunarjo, GM Kompas TV Aleksander Wibisono sebagai narasumber. Kegiatan itu dimoderatori Ketua KPID Jawa Tengah Muhammad Aulia Assyahiddin.
Agenda itu dihadiri Ketua KPI Pusat Agung Suprio dan Wakil Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo, jajaran komisioner KPI Pusat dan Daerah serta seluruh perwakilan radio dan televisi di Solo dan sekitarnya.
Deddy menilai telah terjadi pendangkalan selera masyarakat terhadap konten siaran televisi. Dia menyebutkan sistem produksi yang stripping seperti sekarang, sangat mustahil untuk menciptakan karya-karya berkualitas.
“Penayangan secara stripping boleh saja. Namun jika produksinya pun dilakukan stripping, bagaimana hasilnya bisa berkualitas?,”tanya Deddy
Deddy menyatakan prinsipnya dalam membuat tayangan sinetron ataupun film. Dia hanya membuat tayangan yang pasti untung.
“Jika sudah dapat menginspirasi orang menjadi lebih baik, itu sudah pasti untung, karena akan mengalir amal ibadah untuk saya. Memproduksi tayangan yang tidak bagus dan hanya sekedar mengejar segi keuntungan semata, belum tentu juga berhasil. Yang pasti dapat dosanya,” ujar dia.
Menurut dia, apabila bicara konten televisi yang sehat, tentu harus memperbaiki sistem produksinya. Deddy kemudian menjelaskan bagaimana sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) dibuat. Dalam setahun PPT tidak lebih dari 30 episode, ujarnya. Kalau direncanakan tayang bulan April, maka di bulan September sudah dimulai persiapan produksi. “Sehingga ada waktu yang cukup untuk membenahi cerita, konten, termasuk teknis dan kaidah sinematografi,” ungkapnya.
Pada diskusi publik itu mengemuka ide pembatasan jumlah episode sinetron. Wakil Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo menjelaskan, ide pembatasan episode itu sebagai sebuah upaya menjaga kualitas sinetron yang saat ini masih berada dalam posisi yang di bawah indeks standar yang ditetapkan KPI dalam Riset Indeks Kualitas Televisi tahun 2022. (nad)

Berbasis Riset

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri, Nadhiroh, pada kesemapatan itu turut menyuarakan perlunya tayangan berbasis riset untuk mendukung konten berkualitas dan bermartabat.
Menurut Nadhiroh, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A pernah menyampaikan perlunya konten-konten yang berbasis riset. Dia berharap tayangan-tayangan yang berbasis riset akan semakin banyak. “Misalnya saja tayangan tentang proses tumbuh dan berkembangnya binatang,” tambahnya.
Nursodik dan Aleksander menyambut baik usulan tersebut. Nursodik menilai gagasan itu bisa ditindaklanjuti dengan mempertimbangkan banyak hal termasuk anggaran. Aleksander menyatakan siaran berbasis riset tidak harus dengan anggaran tinggi dan bisa berkolaborasi untuk mewujudkannya. “Di Kompas TV pernah ada program Science is Fun,” imbuhnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *