Beranda / Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri Dorong Ketahanan Pangan Desa melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik bagi Ibu-Ibu PKK Slogoretno

Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri Dorong Ketahanan Pangan Desa melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik bagi Ibu-Ibu PKK Slogoretno

Berita STAIMAS

Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri Dorong Ketahanan Pangan Desa melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik bagi Ibu-Ibu PKK Slogoretno
Pengabdian
Saturday, 1 August 2026
Redaksi PAI

Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri Dorong Ketahanan Pangan Desa melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik bagi Ibu-Ibu PKK Slogoretno

Wonogiri – Komitmen dalam membangun kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa diwujudkan oleh Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAIMAS Wonogiri Kelompok 03 melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik bagi ibu-ibu PKK Desa Slogoretno, Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Slogoretno ini menjadi salah satu program unggulan KPM yang mengintegrasikan aspek pelestarian lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi keluarga.

Puluhan peserta mengikuti pelatihan dengan antusias untuk mempelajari cara mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk yang bernilai guna. Program ini hadir sebagai solusi atas meningkatnya volume sampah organik sekaligus tingginya kebutuhan pupuk bagi masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di sektor pertanian.

Dalam sambutannya, Kades Slogoretno, Yusuf Suparmanto, S.M., menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri yang menghadirkan program edukatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pada sesi penyampaian materi, Choirin, menjelaskan bahwa limbah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan limbah dapur memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik berkualitas. Selain mampu mengurangi pencemaran lingkungan, penggunaan pupuk organik juga dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan lahan, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya terus meningkat.

Pelatihan semakin menarik ketika peserta diajak mengikuti demonstrasi langsung proses pembuatan pupuk organik menggunakan peralatan sederhana yang mudah diterapkan di rumah. Mahasiswa mempraktikkan setiap tahapan, mulai dari pemilahan bahan baku, pencampuran dengan aktivator, proses fermentasi, hingga teknik penyimpanan agar pupuk memiliki kualitas yang optimal.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai komposisi bahan, lama proses fermentasi, hingga cara penggunaan pupuk pada tanaman pekarangan, hortikultura, dan lahan pertanian. Interaksi yang aktif tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk menerapkan teknologi sederhana yang mampu memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan.

Salah seorang peserta, Sri Sulisni mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai. Dengan kemampuan membuat pupuk organik secara mandiri, masyarakat diharapkan dapat mengurangi biaya pembelian pupuk sekaligus memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Ketua Kelompok 03 KPM STAIMAS Wonogiri, Faiz Rafi Adnan Syarif menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa ingin menanamkan pemahaman bahwa limbah organik bukan sekadar sampah, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian keluarga.

"Kami berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dipraktikkan secara berkelanjutan dan disebarluaskan kepada warga lainnya. Dengan demikian, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, sekaligus mendukung ketahanan pangan desa melalui pemanfaatan pupuk organik," ujarnya.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri, Pemerintah Desa Slogoretno, dan Tim Penggerak PKK semakin diperkuat dalam membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Pelatihan pembuatan pupuk organik menjadi bukti nyata bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program akademik, tetapi juga menghadirkan inovasi dan solusi aplikatif bagi kebutuhan masyarakat.

Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, Desa Slogoretno diharapkan mampu menjadi desa yang semakin mandiri dalam mengelola sampah organik, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.