Beranda / Perjalanan Dr. Dewi Agustini, Dosen STAIMAS Wonogiri yang Tumbuh dari Doa dan Buku

Perjalanan Dr. Dewi Agustini, Dosen STAIMAS Wonogiri yang Tumbuh dari Doa dan Buku

Berita STAIMAS

Perjalanan Dr. Dewi Agustini, Dosen STAIMAS Wonogiri yang Tumbuh dari Doa dan Buku
Prestasi
Wednesday, 29 October 2025
Redaksi PAI

Perjalanan Dr. Dewi Agustini, Dosen STAIMAS Wonogiri yang Tumbuh dari Doa dan Buku

Wonogiri – Tidak semua nama sekadar panggilan. Bagi Dr. Dewi Agustini, M.M., nama adalah doa, sekaligus arah hidup yang pelan-pelan menjelma menjadi kenyataan. “Kakak saya yang memberi nama itu. Ia baru saja wisuda dan ingin saya jadi dosen seperti dekan yang dikaguminya di UGM,” kenang Dewi sambil tersenyum.

Kini, puluhan tahun kemudian, doa sang kakak benar-benar terwujud—ia menjadi dosen, peneliti, sekaligus psikolog di Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri.

Lahir di Surakarta, 10 Agustus 1975, Dewi tumbuh di keluarga yang sederhana namun sarat dengan nilai pendidikan. Sejak duduk di kelas dua SD, ia tinggal di Yogyakarta, di lingkungan kos yang hanya sepelemparan batu dari kampus UGM. Suasana akademis yang hidup dan aroma buku di Gramedia menjadi dunia kecilnya.

“Sejak kecil saya suka membaca. Bahkan saya pernah membuat perpustakaan kecil dan menyewakan buku kepada teman-teman,” ujarnya tersenyum mengenang masa itu. Dari kegemaran sederhana itulah, benih cintanya pada dunia pendidikan tumbuh kuat.

Langkah akademiknya pun berjejak kokoh. Ia meraih S1 Ilmu Komunikasi dan S2 Magister Manajemen dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, lalu melanjutkan S3 Psikologi Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) — satu-satunya kampus di Indonesia yang memiliki program doktoral di bidang tersebut. “Saya ingin menggabungkan nilai-nilai Islam dan psikologi dalam pendidikan serta kehidupan,” ungkapnya tentang pilihan studinya.

Sebelum mengabdi di STAIMAS, Dewi telah menapaki banyak peran di dunia pendidikan dan manajemen. Ia pernah menjadi instruktur dan kepala R&D di Sekolah Profesi Citra Emas School of Management and Public Relations (2002–2009), serta dosen di Politeknik Indonusa Surakarta (2006–2017). Sejak STAIMAS berdiri pada 2017, ia menjadi bagian penting dari kampus tersebut. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Sebagai pengajar, Dewi dikenal dengan gaya mengajarnya yang hangat dan reflektif. Ia mengampu berbagai mata kuliah seperti Psikologi Pendidikan, Psikologi Komunikasi, Edupreneur Pendidikan, hingga Bimbingan dan Konseling. “Pengetahuan komunikasi dan psikologi membantu saya, bukan hanya di kelas, tapi juga di rumah,” ujarnya. Ia percaya bahwa menjadi dosen dan ibu adalah dua peran yang saling melengkapi.

Di luar kampus, Dr. Dewi juga dikenal sebagai pengusaha pendidikan. Ia mendirikan berbagai lembaga, mulai dari PAUD, TK Islam Terpadu, daycare, sekolah alam hingga homeschooling di Solo dan Yogyakarta. Ia pun aktif menjadi trainer, konsultan, dan pembicara seminar parenting dan pendidikan di berbagai daerah.

Beberapa karya terbarunya antara lain: Manajemen Tantrum Seumur Hidup: Integrasi Psikologi Modern dan Pendidikan Islam dalam Regulasi Emosi Anak Hingga Dewasa (2025), Peran Orang Tua dalam Penanganan Anak Korban Bullying (2024), dan buku Bimbingan Konseling Keluarga: Konsep dan Implementasinya (2025).

Tema besar yang selalu ia bawa adalah pendidikan karakter, keluarga, dan keseimbangan emosi.

Perjalanan akademiknya bahkan menembus batas negeri. Dewi pernah dua kali menjadi pembicara dalam kegiatan antaruniversitas di Malaysia. Ia mengagumi sistem pendidikan di sana yang memberikan dukungan besar bagi dosen dan mahasiswa, namun kecintaannya pada tanah air membuatnya memilih tetap mengabdi di Indonesia. “Pendidikan itu bagian dari hidup saya,” ujarnya mantap. “Saya ingin ilmu yang saya miliki memberi manfaat, bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga bagi masyarakat.”

Kini, di balik kesibukannya mengajar, meneliti, dan mengelola lembaga pendidikan, Dewi masih menyisakan waktu untuk membaca, menulis, dan mendampingi anaknya yang tengah menempuh studi di UNS.

Bagi Dr. Dewi, pendidikan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Seperti namanya yang lahir dari doa, hidupnya pun menjadi perwujudan dari harapan bahwa ilmu, jika dijalani dengan cinta, akan selalu menemukan jalannya untuk bermanfaat. (Al Azizah Fatimah)

Lihat Berita Selengkapnya

Sumber: didiknews.com