Wonogiri—Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri, Dr Dewi Agustini S.Sos.M.M., membagikan tips bagi orangtua dalam sosialisasi parenting bertema “Mengatur Anak Supaya Mudah Diatur Tanpa Emosi dan Kekerasan, Kamis (17/7/2025), di Balai Desa Cangkring.
Agenda yang diselenggarakan mahasiswa Kelompok 1 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Angkatan 6 itu bekerjasama dengan perangkat Desa Cangkring, dan Ibu-ibu TP PKK. Sosialiasi itu dalam rangka memberikan edukasi kepada para orang tua tentang pentingnya pola asuh yang tepat. Tujuannya adalah memberikan bekal Ilmu Praktis kepada para Orang tua, khususnya ibu-ibu agar mampu menghadapi berbagai tantangan mendidik serta mengarahkan anak-anak di era digital saat ini.
Dewi menyampaikan bahwa anak dapat diarahkan dengan lembut apabila orang tua memahami cara berkomunikasi yang tepat dan konsisten dalam menerapkan aturan di rumah. “Banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi sikap anaknya yang sulit diatur, mudah tantrum, dan kurang disiplin. Dalam realitasnya cara mendidik anak dalam sehari-harinya yang terlalu keras, seperti membentak atau menghukum, justru anak semakin tertutup dan sulit diarahkan,” lanjut Kepala LPPM STAIMAS Wonogiri itu.
Dewi menambahkan dari hasil penelitian psikolog, risiko perkembangan pada anak mengalami tantrum pada usia 1 sampai 5 tahun. “Anak-anak bukan untuk dikendalikan secara keras, tapi diarahkan dengan cinta, teladan, dan aturan yang jelas,” ujar Dewi dalam pemaparannya.
Bu Dewi mengemukakan bahwa keberhasilan mengatur anak sangat dipengaruhi oleh konsisten, kedekatan emosional, serta keteladanan dari orang tua. Dia menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter yang unik serta orang tua perlu belajar menjadi pengendali kebutuhan emosional mereka.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak sulit untuk diatur :
1. Kurangnya kedekatan emosional dengan orang tua, sehingga anak merasa tidak diperhatikan
2. Pola Asuh yang tidak konsisten, adanya perbedaan aturan di rumah antara ayah dan ibu yang berbeda sehingga membuat anak binggung dan cenderung tidak menghormati aturan.
3. Tidak adanya batasan yang jelas, anak dibiarkan bebas tanpa aturan dan merasa dirinya bisa segalanya dan cenderung tidak mau diatur.
Banyak orang tua di masa sekarang kewalahan menghadapi putra putrinya. Dewi membagikan strategi penting agar anak lebih mudah diarahkan, yakni :
1. Menciptakan rutinitas harian yang jelas agar anak terbiasa dengan jadwal yang teratur.
2. Gunakan komunikasi positif dan empati, bukan bentakan atau ancaman.
3. Memberikan contoh nyata dari orang tua, karena anak lebih banyak meniru daripada mendengar.
4. Pemberian tanggung jawab sesuai usia, agar anak belajar mandiri dan merasa dipercaya.
5. Memberikan pujian yang spesifik saat anak menunjukan perilaku baik.
6. Meluangkan waktu khusus untuk berdialog dengan anak setiap hari.
Selain itu, Dewi juga memberikan contoh-contoh kasus nyata dalam kehidupan keluarga yang bisa dijadikan pembelajaran bersama. Berikan motivasi kepada anak sejak kecil, tanyakan cita-citanya, ingatkan pada cita-citanya setiap hari agar selalu di ingat oleh anak dan cita-citanya gampang terwujud. Karena anak perempuan usia 10 tahun sudah dikatakan dewasa dan anak laki-laki dikatakan dewasa usia 18 tahun.
“Harapannya, ilmu yang di dapat tidak hanya menjadi wawasan akan tetapi juga dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta keluarga yang harmonis dan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang taat, sopan,dan mudah di atur,” ucapnya.
Ketua Kelompok 3, Rahmad Widodo berharap melalui kegiatan sosialisasi parenting tersebut orang tua khususnya para ibu mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pola asuh yang tepat, melalui komunikasi hangat, dan keteladanan dalam mendidik anak secara berkelanjutan.
“Semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan agar para orang tua terbekali dalam menjalankan peran mulia yakni sebagai pendididk paling utama di rumah. Karena ditangan merekalah, masa depan generasi yang tangguh dan berakhlak baik,” imbuhnya.

