Bridging Culture Through Islamic Communication and Digital Media, Mahasiswa Fatoni University Berbagi Cerita tentang Indonesia
WONOGIRI – Perbedaan negara dan budaya bukan penghalang untuk saling mengenal. Melalui komunikasi Islam dan media digital, generasi muda dapat membangun persahabatan, memperluas wawasan, serta memperkenalkan budaya kepada masyarakat dunia.
Semangat tersebut mewarnai podcast hikomgenzTV bertajuk “Bridging Culture Through Islamic Communication and Digital Media” bersama mahasiswa Fatoni University, Thailand, dalam rangkaian program student mobility di Indonesia. Perbincangan berlangsung hangat dan dipandu oleh Arvicka Apriliana Rusydiananta, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 5.
Salah satu mahasiswa Fatoni University, Akmal Hayijehmu dari Jurusan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia, berbagi pengalaman selama delapan hari berada di Indonesia. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat serta kuliner khas Indonesia, seperti nasi Padang dan bakso.
“Selama delapan hari di Indonesia, masyarakatnya sangat baik dan ramah,” ungkap Akmal.
Menurutnya, Islam mengajarkan pentingnya saling mengenal, menghormati, dan menghargai perbedaan budaya. Prinsip ta’aruf menjadi landasan dalam membangun hubungan harmonis antarbangsa. Karena itu, komunikasi yang santun dan sikap saling menghormati perlu dikedepankan dalam setiap interaksi.
Menanggapi kegiatan internasional tersebut, Kepala Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIMAS Wonogiri, H. Achmad Zaky Faiz, M.Sos., menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi dan pertukaran budaya yang terjalin.
"Program student mobility dan kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam memperluas cakrawala berpikir mahasiswa KPI STAIMAS Wonogiri. Di era digital, komunikasi Islam harus hadir sebagai jembatan perekat kebhinekaan antarbangsa melalui nilai-nilai ta'aruf, toleransi, dan etika komunikasi yang santun. Kami berharap sinergi bersama Fatoni University Thailand ini tidak hanya mengasah keterampilan praktis mahasiswa di bidang media penyiaran, tetapi juga memperkuat jejaring persahabatan internasional berbasis dakwah dan nilai-nilai keislaman."
Perbincangan juga menyoroti peran media digital, seperti Instagram, TikTok, dan Facebook, sebagai sarana memperkenalkan budaya, kuliner, tradisi, hingga kehidupan masyarakat suatu negara. Melalui platform tersebut, generasi muda dapat mengenal budaya lain tanpa harus bertemu secara langsung.
Namun, pemanfaatan media digital perlu disertai kebijaksanaan, etika, dan penghormatan terhadap keberagaman. Komunikasi Islam tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghadirkan nilai kesantunan, toleransi, dan keharmonisan sosial.
Pengalaman Akmal di Indonesia menunjukkan bahwa program student mobility bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan juga ruang pertukaran budaya dan pembentukan jejaring persahabatan internasional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa STAIMAS dan Fatoni University diharapkan semakin memahami pentingnya komunikasi lintas budaya. Sebab, meskipun berbeda negara dan bahasa, komunikasi yang terbuka serta nilai-nilai kemanusiaan mampu menjadi jembatan persahabatan tanpa batas.