Wonogiri–Wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri tahun ini tidak hanya menghadirkan kebahagiaan akademik, tetapi juga menyimpan sebuah kisah hangat tentang keteguhan, pengabdian, dan perjalanan panjang dua insan yang mengabdi di jalan dakwah dan pendidikan. Di antara wisudawan yang hadir di Gedung PGRI, Sabtu (15/11/2025), sepasang suami–istri dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) berhasil di wisuda bersama yaitu Mujib dan Sulastri. Keduanya menuntaskan studi yang selama ini mereka jalani sembari memikul amanah besar di tengah masyarakat.
Mujib, lahir di Purbalingga, 29 November 1980. Dia merupakan anak ke-10 dari pasangan almarhum Isma’il dan almarhumah Marmah. Sejak kecil ia dibiasakan hidup sederhana dan mandiri, ditempa oleh lingkungan keluarga besar yang harus saling menopang satu sama lain. Nilai-nilai itu yang membawanya pada jalan pengabdian.
Kini, Mujib dikenal sebagai Pendidik di Pondok Pesantren Al-Fatah Wonogiri, tempat ia membina para santri dengan keteladanan dan kedalaman ilmu. Melanjutkan studi di tengah kesibukan mengasuh santri bukan perkara mudah baginya. Namun dengan niat lillahi ta’ala, ia menjalaninya sedikit demi sedikit, malam demi malam, hingga menjadi bagian dari para sarjana baru STAIMAS Wonogiri.
Sementara itu, sang istri, Sulastri, lahir di Pemalang, 7 Juni 1977. Ia adalah anak pertama dari pasangan almarhum Tarso dan almarhumah Wanisah. Sejak muda, ia dikenal tekun dan bertanggung jawab, sifat yang kemudian mengantarnya menjadi Kepala PAUD Qu Al-Fatah Wonogiri.
Menjalani studi sambil mengurus lembaga pendidikan, mendampingi suami, serta menjadi ibu dari 6 anak, tentu bukan tugas ringan. Tetapi Sulastri menjalaninya dengan kesabaran dan komitmen yang jarang ditemui. Wisuda kali ini menjadi bukti bagaimana ketekunan seorang ibu mampu menembus padatnya aktivitas dan tuntutan kehidupan.
“Kami sangat bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan kuliah di STAIMAS. Terima kasih kepada seluruh dosen yang sabar membimbing kami,” ucap Lastri.
Kisah keduanya memberi inspirasi bagi para santri, guru PAUD, hingga masyarakat luas. Mujib dan Sulastri menunjukkan bahwa mengabdi tidak harus menghentikan langkah untuk menambah ilmu. Justru dengan menempuh pendidikan formal, mereka memperkuat kapasitas pengabdian di lingkungan masing-masing.
Di tengah hiruk-pikuk wisuda, cerita pasangan ini menjadi sisi lain yang menyentuh hati, sebuah perjalanan keluarga yang tumbuh bersama dalam dakwah, pendidikan, dan keilmuan.

