Ernawati, Bangkit dari Pendidikan Paket C hingga menjadi Wisudaan Terbaik STAIMAS Wonogiri

Ernawati, Bangkit dari Pendidikan Paket C hingga menjadi Wisudaan Terbaik STAIMAS Wonogiri

Wonogiri — Senyum hangat Ernawati tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya pada rangkaian Wisuda Ke-III STAIMAS Wonogiri, Sabtu (15/11/2025), di Gedung PGRI. Di balik toga hitam dan selempang bertuliskan “Wisudawan Terbaik Prodi KPI,” ada perjalanan panjang yang jarang diketahui banyak orang—perjalanan yang justru membuat pencapaiannya pada Wisuda Ke-III STAIMAS Wonogiri terasa sangat istimewa.

Perempuan kelahiran Wonogiri, 28 Maret 1998 ini didapuk sebagai salah satu dari empat wisudawan terbaik sekaligus menerima kehormatan untuk menyampaikan sambutan mewakili seluruh wisudawan dari empat program studi. Bagi Ernawati, kesempatan itu bukan hanya penghargaan akademik, melainkan penanda perjalanan hidup yang penuh keteguhan.

Tak seperti sebagian teman seangkatannya, Ernawati menempuh pendidikan menengah melalui Paket C setara SMA. Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara, putri dari pasangan Ahmad Khomari Setu dan Sarni. Keterbatasan kesempatan tak pernah membuatnya berhenti melangkah.

Justru dari jalur pendidikan nonformal itu, Ernawati belajar tentang arti ketekunan dan kemandirian. Ia menata mimpinya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya memilih Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di STAIMAS Wonogiri sebagai tempat ia mengembangkan diri. Erna mendapatkan IPK 3,94.

“Usaha keras adalah tugasku, hasil terbaik adalah urusan-Nya,” begitu motto hidup yang selalu ia pegang. Kalimat sederhana itu, menurutnya, menjadi kompas yang menuntun setiap langkah, terutama ketika rasa lelah datang menyergap.

Ketika mendapatkan kabar untuk mewakili sambutan wisudawan, Ernawati sempat tak percaya. Selama ini, setahu dia, yang maju mewakili sambutan wisudawan adalah lulusan terbaik.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa terpilih sebagai salah satu dari empat wisudawan terbaik dan mendapat kepercayaan untuk menyampaikan sambutan mewakili seluruh wisudawan wisudawati. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Semoga pencapaian ini mengantarkan saya pada langkah-langkah yang lebih bermakna ke depannya,” ujarnya dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.

Para hadirin memberikan tepuk tangan panjang—bukan sekadar untuk prestasinya, tetapi juga untuk ketulusan yang terpancar dari setiap kata yang ia sampaikan.

Kisah Ernawati menjadi bukti bahwa jalur pendidikan bukanlah ukuran keberhasilan seseorang. Tekad, disiplin, dan doa adalah perpaduan yang mengantarkan dirinya berdiri di posisi saat ini.

Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa yang ramah, tekun, dan jarang mengeluh. Dosen serta teman-temannya sering menjadikannya contoh bahwa latar belakang tidak menentukan masa depan.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Ernawati berharap dapat terus memberikan dampak positif, baik melalui dunia komunikasi maupun aktivitas sosial di masyarakat. Ia ingin membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan hati akan selalu menemukan jalannya.

Ernawati bukan hanya lulusan terbaik—ia adalah bukti hidup bahwa kesempatan akan selalu berpihak kepada mereka yang tidak berhenti berusaha.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *