Purwanto, Mahasiswa Tertua Wisuda Ke-III STAIMAS Wonogiri, Terus Maju Pantang Menyerah

Purwanto, Mahasiswa Tertua Wisuda Ke-III STAIMAS Wonogiri, Terus Maju Pantang Menyerah

Wonogiri — Di antara toga yang memenuhi Gedung PGRI saat Wisuda Ke-III STAIMAS Wonogiri, Sabtu (15/11/2025), sosok Purwanto tampak berbeda. Bukan karena langkahnya yang pelan namun mantap, tetapi karena kisah di balik perjalanan akademiknya yang begitu panjang dan berliku. Lahir di Sragen, 14 Januari 1967, Purwanto menjadi mahasiswa tertua yang diwisuda tahun ini—sebuah capaian yang menyimpan cerita perjuangan luar biasa.

Pria yang akrab disapa Pur ini adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, putra dari almarhum Wiro Sumarto dan almarhumah Suminah. Sehari-hari ia dikenal sebagai seorang wiraswasta, pengelola usaha air minum isi ulang RO Tirta Murni, yang dibangun dari kerja keras dan pengalaman hidup panjang.

Perjalanan sekolah Purwanto tidaklah mudah. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Jirapan 1, melanjutkan SMP di Masaran 1, namun kemudian harus menunda pendidikan menengah atas karena kondisi keluarga. Tahun-tahun berlalu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan SMA melalui Paket C, langkah awal untuk mengejar pendidikan tinggi yang sempat tertunda puluhan tahun.

Keputusan itu tidak mudah. Usia, aktivitas usaha, tanggung jawab keluarga, dan kondisi fisik bukan alasan bagi Purwanto untuk berhenti. Motonya sederhana, namun menjadi pondasi setiap langkah “Terus maju pantang menyerah.”

Ketika perkuliahan berjalan, datanglah cobaan besar yang hampir membuatnya menyerah. Suatu hari, pembuluh darah di bagian matanya pecah, menyebabkan darah menutupi retina hingga penglihatannya menjadi kabur. Kondisi itu membuat setiap aktivitas membaca dan menulis terasa seperti perjuangan baru yang berat.

“Banyak rintangan yang saya hadapi. Saya hampir putus asa…,” ungkapnya pelan.
Namun sekali lagi, ia memilih bertahan. Ia mengingat keluarga, mengingat mimpinya, mengingat bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia.

Didampingi sang istri, Anik Mardiyah, serta tujuh anak yang selalu memberi semangat—Dewi Apriliani, Reza Rinova, Istiani Ayu, Luluk Linda Silvia, Anatasya, Mikaila dan Azmia
Purwanto kembali bangkit, menyelesaikan tugas-tugas kuliah, hingga akhirnya tiba di titik yang selama ini ia nantikan.

Ketika namanya dipanggil di panggung wisuda, ada rasa syukur yang sulit digambarkan. Bukan hanya karena kelulusannya, tetapi karena ia berhasil menaklukkan rasa putus asa yang sempat mengintai di tengah perjalanan.

“Saya merasa lega… karena dalam menempuh ini semua, banyak rintangan yang saya hadapi. Hampir putus asa, hampir ingin berhenti. Tapi akhirnya saya bisa berdiri di sini hari ini.”

Bagi banyak orang, wisuda adalah penutup sebuah proses belajar. Bagi Purwanto, wisuda adalah pembuktian bahwa tekad manusia bisa melampaui usia, batas fisik, dan cobaan hidup.

Kisah Purwanto menjadi refleksi bahwa pendidikan bukan milik anak muda saja. Ia milik siapa pun yang mau melangkah. Di tengah kesibukan sebagai wirausaha, tanggung jawab keluarga besar, hingga ujian fisik yang berat, ia tetap menjaga mimpinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *